Kisah sang Tikus
February 9th, 2008 by slash
Seekor tikus mengintip celah dibalik tembok untuk mengamati sang petani dan istrinya, saat membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Tapi dia terkejut sekali ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Tikus itu lalu lari kembali ke ladang dan memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus didalam rumah, hati-hati ada perangkap tikus didalam rumah!”
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengengkat kepala dan berkata,”Ya aku tahu pak tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagimu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalah, jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”
Tikus berbalik dan menuju sang kambing. Katanya,” Ada perangkap tikus dirumah!” Sang kambing menyahut,”Waaah, itu bukan urusanku, emangnya gue pikirin.” Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. “oooh, sebuah perangkap tikus? Gue ga mungkin terperangkap, jadi jangan ganggu gue dooonk,” kata lembu itu nyengir sambil berleleran air liur.
Lalu si tikus kembali ke rumah itu dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih. Terpaksa ia menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.
Malam tiba, dan terdengar suara menggema di seluruh sudut rumah, seperti perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsa. Istri petani berlari menghampiri melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan istri petani itu. Petani langsung bergegas merebahkan tubuh sang istri di tempat tidur.
Sejam kemudian tubuh istri petani itu menggigil demam. Dan, sudah menjadi kebiasaan, setiap orang yang demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya dan pergi kekandang untuk menyembelih ayam satu-satunya untuk bahan sup.
Tapi bisa ular itu sungguh ganas, si istri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk, dan tamupun tumpah ruah ke rumah petani. Ia pun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa kambing di kandang dia jadikan gulai.
Tapi tak cukup sampai disitu, bisa ular itu tak dapat ditaklukkan. Si istri petani akhirnya meninggal dunia, dan perpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandangpun di jadikan panganan untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.
Renungan: Sobat, apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu pikir itu tak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahwa apabila ada “Perangkap Tikus” di dalam rumah, seluruh “Ladang Pertanian” ikut menanggung resikonya. Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan daripada baiknya.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.